Home / Kriminalitas Umum / Jenazah Korban ATR 42‑500 Dibawa Ke RS Bhayangkara Makassar

Jenazah Korban ATR 42‑500 Dibawa Ke RS Bhayangkara Makassar

Jenazah Korban ATR 42‑500 Dibawa Ke RS Bhayangkara Makassar
Bagikan

Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan seluruh masyarakat sekitar.

Jenazah Korban ATR 42‑500 Dibawa Ke RS Bhayangkara Makassar

Namun, di tengah kesedihan itu, tim SAR gabungan tak kenal lelah berjuang menembus medan sulit demi mengevakuasi para korban. Proses evakuasi yang penuh tantangan ini akhirnya membuahkan hasil, dengan dua jenazah korban berhasil tiba di RS Bhayangkara Makassar, membawa harapan bagi identifikasi dan ketenangan bagi keluarga yang menanti.

Dapatkan rangkuman berita menarik dan terpercaya seputar yang siap memperluas wawasan Anda.

Dua Jenazah Korban ATR Berhasil Dievakuasi

​Dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah berhasil dievakuasi dari puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.​ Kedua jenazah tersebut kini telah tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut. Evakuasi ini menjadi titik terang setelah upaya pencarian yang intensif di medan yang sulit.

Jenazah korban kedua berhasil tiba di RS Bhayangkara pada pagi hari ini, setelah melalui proses evakuasi yang rumit dari dasar jurang ke punggungan Lampeso. Proses evakuasi yang berlangsung sepanjang Selasa malam hingga Rabu dini hari ini menunjukkan dedikasi luar biasa dari tim penyelamat.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa cuaca yang mendukung pada pagi hari memungkinkan evakuasi menggunakan Helikopter Basarnas Dauphin HR-360. Helikopter ini lepas landas dari Lanud Hasanuddin, menandai keberhasilan penting dalam operasi penyelamatan.

Proses Evakuasi Penuh Tantangan Dari Ketinggian

Evakuasi jenazah korban kedua dari dasar jurang dilakukan menggunakan metode hoist melalui teknik air landed pada pukul 07.59 WITA. Proses ini membutuhkan ketelitian dan keahlian tinggi mengingat lokasi yang ekstrem dan berbahaya. Tim bekerja sigap dalam kondisi sulit tersebut.

Helikopter kemudian kembali mendarat di Lanud Hasanuddin pada pukul 08.18 WITA, membawa serta jenazah yang telah berhasil diangkat. Setelah itu, jenazah segera dievakuasi menggunakan ambulans menuju RS Bhayangkara. Penyerahan jenazah kepada tim DVI menjadi langkah selanjutnya dalam penanganan korban.

Operasi evakuasi ini menunjukkan koordinasi yang efektif antara berbagai elemen tim SAR. Medan pegunungan yang terjal dan cuaca yang tidak menentu seringkali menjadi penghalang utama. Namun, dengan perencanaan matang dan keberanian, tim mampu mengatasi hambatan tersebut.

Baca Juga: Terbongkar! Imigrasi Jakbar Ungkap Sindikat Penyelundupan Manusia ke Australia

Pencarian Lanjutan Dan Identifikasi Korban

Pencarian Lanjutan Dan Identifikasi Korban

Setelah keberhasilan evakuasi dua jenazah, tim SAR gabungan akan melanjutkan pencarian delapan korban lainnya. Pencarian akan difokuskan di beberapa area, termasuk lokasi penemuan korban pertama di daerah Lampeso dan area ditemukannya ekor pesawat, dengan melibatkan berbagai SRU (Search and Rescue Unit).

Jenazah korban kedua yang berhasil dievakuasi diketahui berjenis kelamin perempuan, ditemukan pada Senin (19/1) kemarin. Proses identifikasi akan dilakukan oleh tim DVI Polda Sulsel, dibantu oleh tim asistensi dari Polri. Ketepatan identifikasi adalah prioritas utama.

Karo Dokpol Mabes Polri, Brigjen dr. Nyoman Eddy Purnama, menegaskan bahwa identifikasi akan menggunakan standar DVI internasional. Data antemortem dari keluarga akan dicocokkan dengan data postmortem untuk memastikan identitas korban secara akurat.

Prioritas Ketepatan Dalam Proses Identifikasi

Tim DVI akan bekerja maksimal dengan memprioritaskan ketepatan hasil pemeriksaan korban. Brigjen dr. Nyoman Eddy Purnama menekankan bahwa kecepatan bukanlah prioritas utama dalam proses ini, melainkan akurasi. Hal ini untuk menghindari kesalahan dalam mengembalikan jenazah kepada keluarga.

Seluruh tahapan identifikasi akan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, melibatkan dua dokter, tiga dokter forensik, seorang dokter radiologi, dan staf pendukung lainnya. Kolaborasi multidisiplin ini memastikan setiap detail diperiksa secara teliti dan komprehensif.

Pengumpulan dan dokumentasi seluruh data, termasuk ciri-ciri fisik dan tanda-tanda khusus korban, menjadi krusial. Proses rekonsiliasi data antemortem dan postmortem akan dilakukan secara cermat. Hanya setelah kecocokan data terkonfirmasi, identitas korban akan secara resmi dipastikan.

Ikuti berita dan info terpercaya seputar yang dapat menambah wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari regional.kompas.com
  • Gambar Kedua dari tribunnews.com
Tagged: